Cargo handling adalah kegiatan pelayanan terhadap muatan / barang (keluar dan masuk) yang melalui bandar udara , meliputi loading unloading , pemindahan dari pesawat udara ketempat penyimpanan (gudang cargo),menyusun dan menyimpan barang tersebut serta meyerahkan kepada pemiliknya, atau sebaliknya menerima dari si pemilik, disusun didalam tempat penyimpanan (gudang cargo),dipindahkan dari tempat penyimpanan ke pesawat udara serta menyusun di dalam ruangan compartment pesawat udara,dengan pengertian bahwa melaksanakan semua kegiatan tersebut dengan pengetahuan serta keahlian.

 

Proses pekerjaan antara lain adalah :

  1. Penerimaan (Acceptance)
  2. Timbang barang
  3. Pembuatan Dokumen Angkut (Documentation)
  4. Build up / Break – down dari pallet / container atau gerobak
  5. Penarikan dari gudang ke pesawat dan sebaliknya
  6. Loading ke pesawat dan unloading dari pesawat
  7. Penyimpanan (storage)
  8. Pengiriman (delivery)

 

Cargo handling dapat bekerja dengan lancer apabila system, prosedur, serta sarana dan prasarana yang dimiliki gudang dan pergudangan di masing – masing stasiun mencukupi dan pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan benar sesuai operating procedure. Dibawah ini beberapa penjelasannya.

  • Sistem

Untuk pembuatan bukti timbang barang / BTB digunakan program yang di-install dalam computer. Manifest cargo dibuat dengan mengisi form yang telah tersedia.

  • Prosedur

Setiap gudang mempunyai acuan kerja yaitu Standard Operation Procedure ( SOP) berupa tindakan yang harus dilaksanakan petugas gudang agar perkerjaan operasional dapat berjalan dengan lancar. Tata aturan syarat dan tata cara penerimaan, menyusu barang kiriman ke pallet dan kontainer serta menarik dan memuat barang ke pesawat serta korporasi terdapat dalam manual Airlines.Peraturan lainnya terdapat dalam Cargo Information Notice sebelum dilakukan dalam manual.

  • Sarana dan Prasarana di Gudang

Sarana dan prasarana yang ada di gudang antara lain timbangan, komputer, printer, ruang kantor, telepon, mesin x ray, mesin telex, fasilitas bergerak, fasilitas tidak bergerak. Tiap egara harus memiliki prosedur penanganan dan peraturan yang jelas untuk menjamin barang – barang berbahaya sudah ditangani secara benar. Sesuai dengan ketentuan konvensi chicago bahwa setiap neagara harus memasukkan aturan pengangkutan barang berbahaya ke dalam hokum nasional mereka.

Sistem yang berlaku secara internasional ini berfungsi sebagai alat kontrol pemerintah terhadap pengangkutan barang berbahaya melalui udara juga sebagai standar baku dalam keselamatan penerbangan. Pemerintah Indonesia mengatur tentang penerbangan dalam undang – undang Nomor 1 tahun 2009. Undang – undang tersebut mengisyaratkan bahwa barang berbahaya wajib memenuhi persyaratan keselamatan dan keamanan penerbangan.

 

sumber : https://www.asalogistik.co.id/cargo-handling/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *